DESTINASI BANDUNG–Tips Sehat Konsumsi Daging Kurban ala dr. Tan Shot Yen
Menjelang Hari Raya Iduladha, konsumsi daging kurban menjadi tradisi yang dinanti banyak masyarakat. Namun, di balik kenikmatan menyantap daging sapi atau kambing, ada sejumlah hal penting yang perlu diperhatikan agar konsumsi daging tetap sehat. Dokter dan Ahli Gizi Masyarakat, dr. Tan Shot Yen, membagikan sederet tips sehat dalam mengolah dan menyimpan daging kurban.
Menurut dr. Tan, kesalahan umum yang sering dilakukan adalah mencuci daging sebelum disimpan. “Itu justru bisa menyebabkan bau menyengat dan mempercepat pembusukan,” ujarnya dalam program Pro 3 RRI, Jumat (6/6/2025). Ia menyarankan untuk langsung membekukan daging setelah dibagi dalam beberapa wadah kecil, tanpa perlu dicuci terlebih dahulu.
“Daging bisa tahan sampai tiga bulan jika disimpan di freezer dengan benar,” kata dr. Tan. Untuk menghilangkan bau daging, cukup gunakan nanas atau air asam sebagai bahan perendam sebelum dimasak.
Baca Juga: Bakso Tjap Haji, Tempat Kuliner Bandung Hadirkan Bakso Otentik dari Daging Sapi Pilihan
Terkait anggapan bahwa konsumsi daging menyebabkan kolesterol tinggi, dr. Tan meluruskan bahwa itu adalah mitos. Ia menjelaskan bahwa daging mengandung protein dan zat besi yang justru dibutuhkan tubuh, terutama untuk mendukung pembentukan otot dan produksi sel darah merah.
Namun, ia mengingatkan bahwa bagian lemak atau gajih sebaiknya tidak dikonsumsi. “Lemak yang tampak jelas bisa dibuang, supaya lebih sehat,” imbuhnya. Tak hanya jenis daging, cara pengolahannya juga menentukan dampak kesehatan.
“Sebisa mungkin hindari menggoreng atau membakar daging karena bisa memicu pembentukan senyawa karsinogenik,” tegas dr. Tan. Cara memasak terbaik adalah dengan direbus, seperti membuat sop atau semur.
Lebih lanjut, ia memberikan contoh menu sehat dari daging kurban yang bisa dipilih, seperti gulai, sop kambing, rendang, tongseng, hingga dendeng. Namun, ia menekankan bahwa penggunaan santan sebaiknya tidak dipanaskan berulang kali karena berisiko menurunkan kualitas.
Baca Juga: Platinum Resto dan Cafe Kini Hadir di PVJ Bandung dengan Konsep Baru Sajikan Kuliner Khas Bandung
Selain cara memasak, dr. Tan juga menggarisbawahi pentingnya pemilihan bumbu yang digunakan. Ia menyarankan untuk menggunakan bumbu asli seperti kunyit, jahe, lengkuas, ketumbar, dan rempah-rempah lainnya. “Bumbu dapur alami tak hanya menambah cita rasa, tapi juga kaya antioksidan dan lebih aman dibandingkan penyedap rasa buatan,” ungkapnya.
Ia juga menyarankan masyarakat menghindari penggunaan bahan tambahan yang sudah melalui proses panjang atau dikenal sebagai bahan makanan ultra processed. “Bahan seperti itu bisa memicu inflamasi kronik kalau dikonsumsi jangka panjang,” jelasnya.
Tak kalah penting, dr. Tan menekankan bahwa konsumsi daging kurban perlu diimbangi dengan sayur dan buah. “Protein dari daging itu bagus, tapi kalau tidak disertai serat, bisa bikin sembelit,” katanya. Kandungan serat dalam sayuran dan buah berfungsi membantu pencernaan dan mengoptimalkan penyerapan nutrisi.
Untuk penderita gangguan ginjal, dr. Tan memberikan peringatan khusus. “Kandungan nitrogen dalam daging bisa membebani kerja ginjal. Jadi, sebaiknya hindari konsumsi daging dalam jumlah besar,” paparnya. Hal ini penting untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak menyantap daging secara berlebihan hanya karena euforia Iduladha. “Porsi tetap harus diperhatikan. Makan secukupnya dan jangan lupa beraktivitas fisik agar tubuh tetap seimbang,” ujarnya.
Tips lainnya yang disampaikan dr. Tan adalah menghindari konsumsi daging dalam keadaan perut kosong. Ia menyarankan makan makanan ringan terlebih dahulu, seperti buah atau sayuran, sebelum menyantap hidangan berbahan dasar daging.
“Perut kosong langsung diisi makanan tinggi protein bisa membuat kerja lambung berat,” jelasnya. Hal ini juga bisa menyebabkan perut terasa begah atau kembung setelah makan.
Sebagai penutup, dr. Tan mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam merayakan momen Iduladha. “Berbagi daging itu ibadah, tapi menjaga kesehatan juga bagian dari rasa syukur. Konsumsi yang sehat adalah bentuk penghargaan terhadap nikmat yang kita terima,” pungkasnya. ***





