DESTINASI BANDUNG– Kitab Sijjin dan Illiyyin: Teror Santet dan Luka Batin dalam Film Horor Psikologis Tayang 17 Juli 2025
Pecinta film horor Tanah Air akan disuguhkan sajian baru penuh ketegangan lewat Kitab Sijjin & Illiyyin, sebuah film yang tidak hanya menampilkan teror supranatural, tapi juga menggali luka psikologis mendalam para karakternya. Disutradarai Hadrah Daeng Ratu, film ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop pada 17 Juli 2025.
Berbeda dari film horor kebanyakan yang sekadar menakuti, Kitab Sijjin & Illiyyin menyisipkan kisah balas dendam lewat praktik ilmu hitam, serta efek trauma masa kecil dan pola asuh buruk yang menghantui hingga dewasa. Alur cerita yang kelam dikembangkan dengan atmosfer menyeramkan dan konflik emosional intens.
Dibintangi oleh Dinda Kanya Dewi dan Yunita Siregar, film ini membawa keduanya menyelami karakter dengan kompleksitas tinggi. Dinda memerankan Laras, anggota keluarga yang dihantui teror mistis, sementara Yunita menjadi Yuli, tokoh antagonis yang menyimpan dendam mendalam dan menjadi pelaku santet.
Cerita bermula dari Yuli, yang menggunakan ritual jenazah untuk mengirim santet kepada keluarga Ambar. Nama-nama korban dituliskan dan dimasukkan dalam tubuh mayat selama tujuh hari. Praktik ini menyebabkan teror gaib yang dialami oleh anggota keluarga seperti Laras (Dinda Kanya Dewi), Rudi (Tarra Budiman), Dean (Sulthan Hamonangan), dan Tika (Kawai Labiba).
Tak kuat menghadapi gangguan yang terus meneror, keluarga Ambar akhirnya meminta bantuan tokoh agama untuk melakukan rukiyah. Namun semakin dalam proses pengusiran santet, semakin terbuka pula luka batin dan masa lalu para karakter.
Dinda mengungkapkan, peran Laras membuatnya merenung tentang akibat pola asuh yang toksik. Dalam konferensi pers di CGV The Kings Mall, Bandung, Jumat 11 Juli 2025, ia menyampaikan bahwa Laras adalah karakter yang tumbuh dalam kemarahan dan merasa tidak adil atas perlakuan orang tuanya.
“Laras itu tumbuh dalam kekerasan emosional. Dia disebut ‘anak gila’ karena sejak kecil dicuci otak oleh ibunya sendiri,” ujar Dinda. Ia juga menghadapi tantangan fisik saat harus kayang sambil kesurupan, menempel ke dinding, hingga berteriak histeris dalam adegan mencekam.
Bagi Yunita Siregar, film ini menjadi debutnya di dunia horor layar lebar. Ia memerankan Yuli, perempuan yang sejak kecil kehilangan orang tua, dianggap anak haram, hingga diperlakukan seperti pembantu. Tekanan emosi membuat Yuli berubah menjadi sosok pendendam yang mengandalkan ilmu hitam sebagai senjata.
“Yuli awalnya rapuh, tapi situasi membuatnya jadi perempuan tanpa belas kasihan,” ujar Yunita. Ia mengaku sempat ragu menerima peran itu karena beban emosi yang berat dan intens.
Sementara itu, Sulthan Hamonangan, yang memerankan Dean, juga mengalami pengalaman mistis selama proses syuting. Ia harus membaca mantra pemanggil arwah dan mengaku merasa seperti benar-benar memanggil makhluk tak kasat mata. “Saat pintu di belakangku terbuka sendiri, aku sempat nangis,” kenangnya.
Tak hanya itu, Sulthan juga beradegan kesurupan dengan membenturkan kepala ke lantai, sesuatu yang menjadi tantangan tersendiri dari sisi teknis dan keamanan.
Hadrah Daeng Ratu selaku sutradara menjelaskan bahwa film ini memang ingin menyentuh ranah lebih dalam dari sekadar horor. Ia menyisipkan unsur psikologis dan kritik sosial, terutama terkait pola asuh yang meninggalkan trauma generasi.
Dengan durasi penuh ketegangan, akting penuh totalitas, serta tema dendam dan santet yang mencekam, Kitab Sijjin & Illiyyin diyakini akan menjadi tontonan horor yang berkesan dan berbeda.
Bagi penggemar film horor lokal, khususnya yang menyukai kisah mistis berlatar ilmu hitam dan konflik batin mendalam, film ini bisa menjadi salah satu rekomendasi wajib tonton saat tayang di bioskop pada 17 Juli 2025.*





