Dua Bayi Harimau Mati Terinfeksi Virus, Pemkot Bandung Lakukan Evaluasi Total Tata Kelola Kebun Binatang

oleh -265 Dilihat
Kebun Binatang Bandung
Kebun Binatang Bandung

DESTINASI BANDUNG – Kematian dua bayi harimau di Kebun Binatang Bandung menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Peristiwa tragis ini memicu langkah cepat dari Pemerintah Kota Bandung untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan serta pengamanan kesehatan satwa.

Dua ekor anak harimau yang baru berusia delapan bulan dilaporkan mati mendadak setelah terinfeksi virus Panleukopenia, penyakit yang dikenal sangat berbahaya bagi kucing, termasuk kucing besar seperti harimau. Virus ini disebut berkembang dengan sangat cepat dan bersifat akut, sehingga berpotensi menyebabkan kematian dalam waktu singkat, khususnya pada satwa yang masih berusia muda.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengaku sangat terpukul atas kejadian tersebut. Ia menyebut bahwa hasil pemeriksaan dari para ahli menunjukkan virus yang menyerang kedua anak harimau berkembang secara agresif dalam waktu singkat.

Baca Juga: Lonjakan Wisatawan Lebaran 2026 di Bandung Capai 700 Ribu Orang, Diprediksi Tembus 1 Juta Pengunjung

Menurut Farhan, kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi semua pihak yang terlibat dalam pengelolaan kebun binatang. Ia menegaskan bahwa meskipun virus panleukopenia tergolong penyakit yang umum terjadi pada kucing, dampaknya bisa sangat fatal ketika menyerang kucing besar, terutama pada usia muda yang masih rentan terhadap infeksi.

Pemerintah Kota Bandung pun langsung mengambil langkah strategis untuk memperkuat sistem biosekuriti di area kebun binatang. Biosekuriti merupakan sistem pengamanan biologis yang bertujuan mencegah masuknya penyakit dari luar ke dalam kawasan konservasi satwa.

Langkah ini menjadi prioritas utama karena kesehatan satwa merupakan bagian penting dalam menjaga keberlangsungan fungsi kebun binatang sebagai lembaga konservasi. Tidak hanya berfungsi sebagai tempat rekreasi, kebun binatang juga memiliki tanggung jawab besar dalam melindungi satwa langka dari ancaman kepunahan.

Selain memperkuat sistem biosekuriti, Pemkot Bandung juga berencana menggandeng berbagai pihak untuk melakukan evaluasi menyeluruh. Kerja sama akan dilakukan bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat serta pemerintah pusat, termasuk Kementerian Kehutanan Republik Indonesia.

Kolaborasi lintas instansi ini diharapkan dapat menghasilkan sistem pengelolaan kebun binatang yang lebih profesional dan sesuai dengan standar konservasi modern. Evaluasi tersebut akan mencakup berbagai aspek, mulai dari tata kelola organisasi hingga prosedur kesehatan satwa.

Baca Juga: Bale Santai Honda Jadi Teman Perjalanan Pemudik, Hadirkan Istirahat Nyaman di Jalur Mudik

Menurut Farhan, peristiwa kematian dua bayi harimau ini harus menjadi titik balik dalam memperbaiki sistem pengelolaan kebun binatang secara menyeluruh. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin kejadian serupa terulang kembali di masa depan.

Sebagai lembaga konservasi, kebun binatang memiliki fungsi utama dalam menjaga keberlangsungan populasi satwa langka melalui program penangkaran. Oleh karena itu, pemerintah memastikan bahwa program reproduksi satwa tetap berjalan meskipun terjadi peristiwa duka ini.

Bahkan, ke depan program penangkaran akan dikembangkan hingga tahap pelepasliaran satwa ke habitat alaminya. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem serta melestarikan keanekaragaman hayati Indonesia.

Selain itu, perhatian khusus juga akan diberikan pada pengembangbiakan satwa endemik yang berasal dari wilayah Jawa Barat. Pelestarian satwa lokal dinilai memiliki nilai strategis dalam menjaga kekayaan biodiversitas daerah.

Pemkot Bandung menargetkan proses pembenahan tata kelola kebun binatang dapat diselesaikan dalam waktu satu bulan ke depan. Dalam proses tersebut, pemerintah juga akan menunjuk lembaga konservasi berbadan hukum sebagai mitra resmi dalam pengelolaan kebun binatang.

Di tengah kabar duka tersebut, Farhan juga mengingatkan bahwa Kebun Binatang Bandung sebenarnya memiliki rekam jejak yang cukup baik dalam hal reproduksi satwa. Salah satu keberhasilan yang pernah dicapai adalah kelahiran seekor harimau betina bernama Donggala pada tahun 2019.

Harimau tersebut lahir dari induk pejantan yang sama dengan kedua bayi harimau yang baru saja mati, yaitu seekor harimau bernama Sahrulkan. Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa kemampuan penangkaran di kebun binatang ini sebenarnya sudah terbukti.

Namun demikian, kehilangan dua anak harimau tetap menjadi pukulan berat bagi semua pihak. Meski begitu, Farhan menilai kejadian ini juga harus dijadikan momentum untuk melakukan pembenahan secara menyeluruh.

Ia memastikan bahwa prosedur vaksinasi dan standar perawatan satwa selama ini telah dijalankan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Baik sebelum maupun setelah pengelolaan kebun binatang diambil alih pemerintah, standar kesehatan satwa tetap menjadi perhatian utama.

Proses transisi pengelolaan juga dilakukan dengan mekanisme transfer informasi yang lengkap, sehingga setiap prosedur penting tetap dapat dilanjutkan dengan baik oleh pihak pengelola baru.

Meski demikian, kejadian ini menunjukkan bahwa sistem biosekuriti, khususnya pada area perimeter atau batas luar kebun binatang, masih perlu diperkuat secara signifikan. Peningkatan pengawasan di area tersebut dinilai menjadi kunci utama dalam mencegah masuknya penyakit dari luar.

Pemkot Bandung menegaskan komitmennya untuk menjaga kesejahteraan satwa atau animal welfare sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan profesional dalam pengelolaan lembaga konservasi.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pengelolaan kebun binatang membutuhkan standar tinggi dalam hal kesehatan, keamanan, serta pengawasan lingkungan. Dengan evaluasi menyeluruh yang sedang dilakukan, diharapkan kebun binatang dapat kembali menjalankan fungsinya secara optimal sebagai pusat konservasi, edukasi, dan rekreasi bagi masyarakat.