Launching Haadiya Syari, Brand Busana Syar’i Alia Karenina yang Lahir dari Refleksi Diri dan Perjalanan Hijrah

oleh -296 Dilihat
Launching Haadiya Syari, Brand Busana Syar’i Alia Karenina yang Lahir dari Refleksi Diri dan Perjalanan Hijrah
Launching Haadiya Syari, Brand Busana Syar’i Alia Karenina yang Lahir dari Refleksi Diri dan Perjalanan Hijrah

DESTINASI BANDUNG – Haadiya Syari resmi diluncurkan sebagai brand busana syar’i yang tidak lahir dari gemerlap industri modest fashion, melainkan dari proses refleksi diri dan perenungan mendalam sang pendirinya, Alia Karenina. Brand ini menjadi bagian dari perjalanan spiritual Alia setelah kehilangan suami tercinta yang berpulang akibat kanker.

Alia menuturkan, Haadiya—yang berarti hadiah—bukanlah hadiah dalam bentuk kemewahan atau pita indah, melainkan hadiah yang datang dari fase kehilangan. Dari titik terendah itulah, ia mulai mendekatkan diri kepada agama, memperdalam pemahaman Islam, hingga memutuskan menunaikan ibadah haji.

“Dari sana saya benar-benar belajar, termasuk memahami bagaimana berpakaian sesuai syariat yang benar,” ujar Alia.

Baca Juga: 10 Wisata Anak di Bandung 2026 yang Menyenangkan dan Edukatif untuk Liburan Keluarga

Berangkat dari Kebutuhan Nyata Muslimah

Haadiya Syari lahir dari kegelisahan sederhana: sulitnya menemukan busana syar’i yang nyaman dikenakan dari pagi hingga malam, terutama bagi muslimah dengan mobilitas tinggi seperti dirinya yang kerap bolak-balik Jakarta–Bandung. Perbedaan cuaca ekstrem antara kedua kota menjadi tantangan tersendiri.

Untuk itu, Haadiya memilih menggunakan natural fabric sebagai material utama. Kain alami dinilai lebih ringan, tidak panas, tidak menimbulkan listrik statis, serta nyaman digunakan dalam aktivitas harian maupun ibadah.

“Sejak pakai bahan natural fabric, saya bahkan tidak pernah lagi ‘kesetrum’ karena listrik statis. Itu hal kecil, tapi sangat berpengaruh,” tuturnya.

Mengajak Muslimah Berpakaian Syar’i yang Nyaman dan Bermakna

Melalui Haadiya, Alia ingin mengajak lebih banyak perempuan untuk mengenakan busana syar’i sesuai syariat, tanpa kehilangan rasa nyaman dan keindahan. Warna-warna yang digunakan pun masih variatif, sebagai pendekatan bagi mereka yang baru memulai perjalanan berhijrah.

Baca Juga: 10 Tempat Wisata Lembang Bandung Lengkap dengan Hotel Terdekat, Favorit Liburan Keluarga

Tak hanya fokus pada produk, Haadiya juga membuka ruang kolaborasi luas, khususnya dengan sesama women founder. Sejumlah kolaborasi telah terjalin, mulai dari Batik Sadabumi bersama Adri Basuki untuk penyintas kanker, Halal Lika Project, Sahip Indonesia, Hijab Syafiyah, hingga Qur Love Story.

“Perempuan-perempuan ini berkarya dengan cara luar biasa, tetap dalam koridor syariat. Itu sangat menginspirasi,” kata Alia.

Tiga Pilar Koleksi Haadiya Syari

Ke depan, Haadiya Syari akan berfokus pada tiga pilar koleksi utama. Pilar pertama bertajuk One Path, dengan desain garis tegas yang merepresentasikan tauhid kepada Allah. Pilar kedua, The Shape That Influence, The Influence That Shaped Me, terinspirasi dari perjalanan hidup Alia di berbagai negara seperti India, Jepang, dan Inggris, yang diterjemahkan dalam elemen budaya dan tekstil.

Sementara pilar ketiga, The Calm Within, menampilkan busana polos tanpa ornamen, garis, atau aksen—menghadirkan ketenangan melalui warna dan potongan sederhana. Koleksi ini dirancang sangat nyaman, termasuk untuk ibadah umrah dan haji.

Komitmen pada Slow Fashion dan Keberlanjutan

Haadiya Syari juga menegaskan komitmennya pada konsep slow fashion. Alia tidak ingin merilis koleksi secara masif, melainkan terbatas dan penuh kesadaran. Bahkan, seluruh elemen dekorasi dan kain display dirancang untuk dapat digunakan kembali atau didaur ulang.

“Saya tidak ingin masuk ke industri fashion sambil menambah masalah lingkungan. Niatnya dari awal adalah mencari pahala dan keberkahan,” tegasnya.

Membangun Komunitas, Bukan Sekadar Pasar

Alih-alih menargetkan segmen usia tertentu, Haadiya Syari menyasar muslimah dari berbagai latar belakang perjalanan hijrah. Alia meyakini bahwa setiap perempuan memiliki waktu dan proses masing-masing dalam menerima hidayah.

Untuk memperkuat nilai tersebut, Haadiya membangun pendekatan berbasis komunitas melalui majelis taklim dan kajian keislaman, sebagai ruang belajar bersama dan saling menguatkan.

“Ketika sudah memilih jalan hidup, saya percaya Allah akan memudahkan. Yang penting niatnya lurus, mencari rida-Nya,” pungkas Alia.