DESTINASI BANDUNG– Di sudut terpencil Desa Mekarbakti, Sumedang, tepatnya di Dusun Lebak Bitung Rw 08 Rt33, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, tersimpan warisan budaya yang hampir punah yaitu seni ukir sarung golok tradisional, sarung golok ini memiliki ciri khas seni ukir dipegangan dan sarung goloknya.
Dulunya sarung golok ini sangat diminati kalangan orang tua khususnya di desa-desa. Seiring berjalannya waktu dan adanya perkembangan teknologi yang modern produk golok tersebut menjadi sangat langka.
Namun, dibalik kelangkaannya, karya sarung golok ini justru semakin dicari oleh sebagian orang karena mengandung nilai budaya dan seniyang tinggi.
Baca Juga: 10 Tempat Wisata Ciwidey Bandung Terbaru 2024 yang Berdekatan, Cocok Dikunjungi saat Liburan Sekolah
Pengrajin pisau di Desa Mekarbakti telah ada sejak tahun 1985 an yang dipelopori oleh bapak Eem Sulaiman yang bernama Ukiran Warangka Golok dan Gaet Dagiang Komara.
Sekarang beliau sudah berumur 60 tahun, beliau adalah salah satu pembuat sarung golok terkemuka di desa tersebut. Bersama anaknya, beliau menjalankan usaha kerajinan ini dengan penuh dedikasi selama puluhan tahun.
Dalam satu hari Eem bersama anaknya bisa menghasilkan 20 golok utuh untuk dijual ke pengepul.Hasil golok yang dihasilkan ini tidak hanya berfungsi sebagai alat sehari-hari, tetapi juga menjadi simbol dari budaya lokal.
Setiap pisau dan golok yang dibuat oleh Eem memiliki ciri khas tersendiri yaitu seni dan kekayaan tradisi lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.Eem dan anaknya tidak hanya menjual sarung golok, tetapi juga menawarkan produknlainnya seperti sarung arit, kujang, dan kriss.
Baca Juga: Harga Tiket Terbaru Tempat Wisata Floating Market Lembang Bandung 2024 dan Panduan Wisatanya
Proses pembuatan sarung golok ini melibatkan beberapa tahapan penting. “Pertama, kayu besar dipotong sesuai ukuran yang dibutuhkan. Kemudian, kayu tersebut dibentuk menjadi pegangan dan sarung golok yang pas. Setelah itu, golok dipasangkan dengan pegangan sarungnya.
Langkah berikutnya adalah mengukir pegangan dan sarung golok secara manual untuk memberikan detail estetis.
Terakhir,dilakukan proses finishing atau pewarnaan agar pegangan dan sarung golok tampakmengkilap dan menarik.
Proses pembuatan ini juga memerlukan kesabaran dan keterampilan yang tinggi karena ukiran seni dari setiap sarung golok harus sama presisi dengan yang lainnya.
Oleh karena itu tidak banyak orang bisa membuat kerajinan tersebut. Bahan-bahan dalam pembuatan sarung golok ini juga harus memiliki kualitas yangbaik agar bisa bertahan lama dan ringan untuk digunakan.
Baca Juga: 8 Tempat Wisata Edukasi di Bandung yang Bikin Betah Anak saat Liburan Sekolah, Ada yang Gratis Loh!
Untuk kayu yang digunakan sarunggolok Pak Eem ini menggunakan kayu jambu klutuk untuk pegangannya dan kayu mahoniuntuk sarungnya. “Karena kedua bahan tersebut mempunyai keunggulan masing-masingsalah satunya adalah kuat dan tidak mudah pecah” katanya.
Meskipun memiliki nilai sejarah dan seni yang tinggi, jumlah pengrajin pisau di DesaMekarbakti semakin berkurang. Banyak generasi muda yang tidak tertarik untuk meneruskan profesi ini karena dianggap tidak menjanjikan secara finansial dan proses pembuatannya yangsangat sulit.
“Sebelumnya saya sudah melatih 10 pemuda desa untuk membuat sarung golok,namun dari hasil latihan ini belum ada yang mampu membuat sarung golok seperti standaryang saya inginkan, ” ujar Eem.
Selain itu, masuknya produk pisau dan golok dari pabrik yanglebih murah dan mudah didapat juga mengancam keberadaan pisau tradisional ini.
Ditengah ancaman kepunahan, minat terhadap sarung golok buatan Eem Sulaiman ini justru meningkat dan banyak diminati.
“Permintaan dari pengepul setiap minggu nya cukup tinggi namun sangatdisayangkan kami tidak bisa mewujudkan permintaan tersebut karena kami hanya memilikisumber daya atau pekerja yang sedikit,”katanya.
Eem selalu bertanya kepada pengepul kenapa produk sarung golok ia begitu sangat diminati oleh pelanggan.
Menurut Pengepul bahwa produk sarung golok Eem Sulaiman mempunyai nilai budaya dan seni ukir yang tinggi.
Hal ini menunjukkan bahwa pelanggan sangat menghargai keindahan seni yang terkandung dalam setiap sarung golok buatan Pak Eem Sulaiman.
Kelangkaan pengrajin sarung golok di Desa Mekarbakti bukan hanya sekedar cerita tentang profesi yang hampir punah, tetapi juga cerminan perjuangan yang mempertahankan warisan budaya.
Di balik setiap sarung golok yang dihasilkan, tersimpan kisah panjangtentang keahlian, dedikasi, dan cinta terhadap tradisi.
Dukungan dan apresiasi darimasyarakat diharapkan dapat terus menjaga keberlanjutan kerajinan ini untuk generasi mendatang.





