DESTINASI BANDUNG – Sabtu 28 Desember 2024 Komunitas Perempuan Muda Karya (Pemuka) yang merupakan salah satu komunitas di Bandung yang fokus pada perempuan telah mengadakan lagi kegiatan.
Seminar Komunitas Perempuan Muda Karya Kali ini kegiatannya bertajuk “Merajut Karya Merangkai Ketahanan Jiwa”.
Pembukaan Seminar Komunitas Perempuan Muda Karya dimulai oleh Ceu Popong yang membahas tentang beberapa tips dalam hidup. Salah satunya adalah “Tiga J: Jangan sombong! Jangan negatif thinking! Jangan kikir!”
Setelah itu, lima pembicara dihadirkan dari berbagai bidang keahlian.
Pertama yaitu Dr. Multapiah, S.S., M.Hum., seorang doktor di bidang filologi, beliau pemerhati sejarah.
Kedua, seorang peneliti dan dosen yang berfokus pada dunia pendidikan, yaitu Meiry Akmara Dhina, M.Pd.
Ketiga, ibu rumah tangga yang juga pebisnis, Ahdiyanti Wulandari, S.Pd.
Keempat, CEO Perempuan Muda Karya, tenaga ahli di bidang kesehatan, yaitu drg. Ika Nuriani.
Terakhir, Endah Istiqomah Apriliani, M. Hum., seorang dosen juga Certified Depth Therapist (terapis di bidang mental health).
Kelima orang tersebut membahas tentang tema besar Perempuan yang berkarya dan kaitannya dengan ketahanan jiwa.
Menurut pembicara pertama, Dr. Multapiah, S.S., M. Hum., bahwa sejak dahulu, masalah ketahanan jiwa itu terjadi juga di sejarah.
Misalnya saja kisah Maryam (ibunda Nabi Isa a.s.) yang merasakan beratnya saat harus mengandung bayi tanpa sentuhan laki-laki.
Dia diuji dengan fitnah besar. Akan tetapi, saat Maryam merasa tak berdaya, Allah memberinya perintah. Itu tandanya, perempuan jika merasakan kesedihan tak berujung, tak boleh hanya meratapi kesedihan, tetapi bergerak adalah kunci.
Begitu juga dengan kisah perempuan hebat lain, seperti halnya Malahayati, Laksamana perempuan pertama yang diakui dunia.
Saat suaminya syahid dalam perang, Malahayati tidak meratapi kesedihannya, tapi bergerak dan melawan musuh bersama pasukan janda perang, hingga dapat menaklukkan musuh saat peperangan.
Pembicara kedua menekankan bahwa setiap perempuan (baik di rumah maupun di luar rumah) punya karya dan jangan menganggap sepele karya apa pun.
Perempuan memiliki potensi yang besar, maka keluarkan potensi itu dalam mendidik anak, dalam mendukung suami, atau dalam karya di luar rumah.
Dengan berkarya, maka akan membangun ketahanan jiwa.
Adapun ibu rumah tangga pebisnis, Ahdiyanti Wulandari, menjelaskan bahwa seorang perempuan bisa tetap berkarya meskipun sudah menikah.
Karena apa pun karya tersebut, perempuan bisa menghadapi setiap THR (tantangan, halangan, dan rintangan).
Pembicara keempat yaitu CEO Perempuan Muda Karya, drg. Ika Nuriani, menjelaskan bahwa banyak kesulitan pasti datang.
Tapi munculkan konsep menerima takdir, itu akan menjadikan hidup lebih bisa dihadapi.
Terakhir, Endah Istiqomah Apriliani, M. Hum., salah satu terapis di bidang mental health menjelaskan bahwa adanya penelitian yang menunjukkan seorang manusia yang fokus hanya melulu pada dirinya, tidak peduli pada sekitar, bahkan tidak membantu sekitar, lebih mudah mengalami depresi dan kecemasan.
Jadi, kebaikan pada orang lain mengurangi depresi dan kecemasan.
Menurut beliau, hadits “sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lain” ternyata benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
Maka, pesannya, sebagai manusia juga sebagai perempuan, jadilah bermanfaat bagi sesama.
Kemudian acara dilanjutkan dengan penampilan lagu “Jangan Bersedih”, diikuti dengan sisindiran Sunda dan Bahasa Inggris.
Setelah itu, ditutup dengan penampilan teater sederhana tentang dilema yang dirasakan para ibu, yaitu ibu rumah tangga dan ibu bekerja, yang diakhiri dengan lagu “Terima Kasih Sudah Bertahan” yang berhasil membuat panitia dan peserta menangis.
Pengurus Komunitas Perempuan Muda Karya (Pemuka) berharap kegiatan seperti ini bisa membangkitkan semangat para perempuan di Indonesia dan menjadikan para perempuan berkarya sebagai perempuan hebat.
Di belakang kaki-laki yang hebat, ada perempuan yang hebat.
Dari rahim perempuan hebat, lahir peradaban.
Semoga perempuan di Indonesia bisa merajut karya dan merangkai ketahanan jiwa.***





